Saat malam makin sunyi dan kamu sudah bersiap di bawah selimut, rasanya menyenangkan kalau ada cerita yang bisa membawa pikiranmu berjalan-jalan sebentar sebelum tidur.
Lewat beberapa dongeng fantasi ini, kamu akan diajak masuk ke dunia ajaib yang penuh bintang jatuh, hutan rahasia, dan pulau misterius yang hanya muncul saat bulan bersinar terang.
Setiap dongeng fantasi menghadirkan petualangan hangat yang membuat kamu tersenyum, tanpa terasa berat atau menegangkan.
Cerita-cerita ini siap menemani kamu memejamkan mata dengan perasaan tenang, seolah kamu benar-benar ikut berkelana di dalamnya.
Table of Contents
Dongeng Fantasi: Pohon Harapan yang Mulai Layu

Di tengah Desa Lembayung berdiri sebuah pohon raksasa bernama Pohon Arunika. Daunnya berkilau keemasan setiap fajar, dan akarnya menjulur seperti pelukan yang melindungi tanah di sekitarnya.
Konon, sekali dalam setahun, pohon itu mengabulkan satu harapan paling tulus dari penduduk desa.
Namun, beberapa tahun terakhir, daunnya mulai menguning sebelum waktunya. Buah cahayanya mengecil, dan desir anginnya terdengar seperti keluhan.
Warga tetap datang membawa harapan, ingin kekayaan, panen melimpah, rumah lebih besar, tetapi tak ada yang bertanya bagaimana keadaan sang pohon.
Nara, seorang anak perempuan yang gemar duduk di bawah rindangnya, menyadari sesuatu. Setiap kali seseorang memohon dengan serakah, satu daun jatuh perlahan.
Suatu malam, ia mendengar bisikan lirih dari batang pohon, “Aku lelah… harapan yang berat membuatku rapuh.”
Ketika hari pengabulan tiba, seluruh desa berkumpul. Mereka menunjuk kepala desa untuk menyampaikan permohonan besar: tambang emas di bukit utara. Sebelum kata-kata itu terucap, Nara maju dengan jantung berdebar.
“Aku ingin Pohon Arunika kembali sehat,” katanya mantap.
Hening menyelimuti lapangan. Tanah bergetar lembut. Akar-akar yang tadinya pucat mulai bersinar kehijauan.
Daun-daun baru tumbuh cepat, memercikkan cahaya hangat ke wajah warga. Angin berembus membawa aroma hujan pertama setelah kemarau panjang.
Tak ada emas muncul di bukit. Namun, esok paginya sawah-sawah kembali subur, sungai mengalir jernih, dan udara terasa lebih segar dari sebelumnya.
Sejak hari itu, warga belajar bahwa harapan bukan untuk menumpuk keinginan, melainkan menjaga keseimbangan.
Dan Pohon Arunika pun kembali berdiri tegak, bukan karena diminta memberi, tetapi karena akhirnya ada yang memilih untuk melindungi.
Baca juga: 5 Dongeng Cerita Pendek Anak yang Menyenangkan dan Penuh Pelajaran Hidup
Dongeng Fantasi: Anak yang Bisa Berbicara dengan Bayangan
Di sebuah kota kecil yang selalu diselimuti kabut senja, tinggal seorang anak bernama Raka. Sejak kecil, ia sadar bahwa bayangannya berbeda.
Ketika ia berhenti berjalan, bayangannya masih bergerak pelan. Ketika ia diam, bayangannya seolah berbisik.
Suatu malam, saat lampu minyak di kamarnya berkedip, bayangan itu akhirnya berbicara.
“Aku bukan sekadar bayanganmu,” katanya lembut. “Aku penjagamu.”
Raka terdiam, tetapi anehnya ia tidak takut. Bayangannya memperkenalkan diri sebagai Ghaibra, makhluk dari Dunia Gelap yang bertugas melindungi anak-anak berhati terang. Selama ini, Ghaibra mengusir makhluk kelam yang bersembunyi di sudut-sudut gelap kota.
Namun perlahan, lampu-lampu kota mulai padam lebih cepat. Orang-orang sering merasa marah tanpa alasan. Malam terasa lebih berat dari biasanya. Ghaibra melemah.
“Apa yang terjadi?” tanya Raka.
“Manusia mulai menolak bayangan mereka sendiri,” jawab Ghaibra.
“Mereka membenci rasa takut, marah, dan sedih. Padahal tanpa itu, keseimbangan hilang.”
Suatu malam, Ghaibra menghilang. Bayangan Raka tak lagi menempel di tanah. Saat itulah makhluk-makhluk kelam muncul, tinggi, samar, berbisik di telinga orang-orang, memperbesar amarah dan ketakutan.
Raka menyadari satu hal: untuk memanggil kembali bayangannya, ia harus menerima sisi gelap dalam dirinya. Ia berdiri di tengah alun-alun kota saat bulan purnama naik tinggi.
“Aku takut,” katanya lantang. “Aku pernah marah. Aku pernah iri. Tapi itu bagian dari diriku.”
Tanah bergetar pelan. Dari kakinya, bayangan perlahan muncul kembali, lebih besar, lebih kuat, namun hangat.
Ghaibra kembali berdiri di sampingnya. “Bayangan bukan musuh,” katanya. “Ia adalah penyeimbang cahaya.”
Sejak malam itu, kota kembali terang. Bukan karena tak ada gelap, tetapi karena warganya belajar berdamai dengan bayangan mereka sendiri.
Dongeng Fantasi: Jam Pasir Pembalik Takdir

Di loteng rumah kayu peninggalan kakeknya, Alin menemukan sebuah jam pasir tua berbingkai perak. Butiran pasirnya berkilau kebiruan, seolah menyimpan cahaya bintang.
Di bagian bawah terukir tulisan kecil, Satu putaran untuk satu kesempatan.
Malam itu, Alin menangis karena bertengkar dengan sahabatnya, Bima. Kata-kata tajam yang ia ucapkan terngiang terus di kepalanya. Dengan ragu, ia membalik jam pasir.
Dunia bergetar pelan.
Ia terbangun di pagi hari yang sama, sebelum pertengkaran terjadi.
Kali ini, Alin memilih diam saat emosi datang. Hari berjalan lebih baik. Ia tersenyum lega.
Namun saat pulang sekolah, ia menyadari sesuatu yang aneh, ibunya lupa cerita favorit mereka. Seolah satu kenangan kecil menguap.
Keesokan harinya, Alin membalik jam pasir lagi, ingin membuat segalanya lebih sempurna. Ia memperbaiki nilai ulangan, menghindari kesalahan kecil, bahkan membantu lebih banyak orang.
Tetapi setiap kali pasir habis dan waktu terulang, seseorang melupakan sesuatu, tawa bersama, janji sederhana, bahkan lagu yang biasa dinyanyikan ayahnya.
Alin mulai memahami harga dari setiap kesempatan kedua, waktu menukar kenangan sebagai gantinya.
Saat pasir hampir habis untuk terakhir kalinya, Alin berdiri gemetar. Ia bisa kembali memperbaiki satu kesalahan besar yang pernah ia buat bertahun lalu.
Namun jika ia melakukannya, mungkin kenangan tentang keluarganya akan lenyap sepenuhnya.
Dengan napas berat, ia meletakkan jam pasir tanpa membaliknya.
Keesokan pagi berjalan apa adanya. Tidak sempurna. Ia meminta maaf pada Bima dengan tulus, tanpa sihir. Sahabatnya tersenyum dan memaafkan.
Jam pasir itu tak pernah bersinar lagi.
Alin akhirnya mengerti, takdir bukan untuk diulang terus-menerus, melainkan untuk dijalani dengan berani. Karena justru dalam ketidaksempurnaan, kenangan menjadi berharga.
Dongeng Fantasi: Pulau yang Muncul Setiap Seratus Tahun
Seratus tahun sekali, ketika bulan dan matahari sejajar di ufuk, sebuah pulau muncul dari kabut di tengah Samudra Selatan. Orang-orang menyebutnya Pulau Asera, pulau yang konon menyimpan Pohon Keabadian.
Arin, seorang anak nelayan, tak pernah percaya pada legenda. Hingga suatu subuh, saat ia melaut seorang diri, kabut terbelah dan daratan hijau perlahan bangkit dari permukaan laut.
Pasirnya berkilau seperti serpihan kaca, dan di tengah pulau berdiri pohon raksasa berdaun perak.
Arin menjejakkan kaki dengan jantung berdebar. Udara di sana terasa berbeda, hening, tetapi hidup. Saat ia mendekati pohon itu, suara berat bergema dari batangnya.
“Manusia datang lagi.”
Arin terlonjak. “Aku tidak ingin hidup selamanya,” katanya jujur. “Aku hanya ingin tahu mengapa kau muncul.”
Akar-akar pohon bergerak perlahan, membentuk bayangan wajah tua. “Aku tidak muncul untuk memberi keabadian,” jawabnya. “Aku muncul saat dunia kehilangan keseimbangan.”
Arin teringat laut yang makin sepi ikan, hutan yang ditebang tanpa henti, dan orang-orang desa yang bertengkar memperebutkan hasil tangkapan.
Tiba-tiba tanah bergetar. Dari balik pepohonan muncul sosok-sosok samar, roh penjaga pulau.
Mereka berbisik tentang keserakahan manusia yang mempercepat kemunculan Asera sebelum waktunya.
“Jika buahku dipetik,” kata Pohon Keabadian, “umur daratan akan memendek. Setiap tahun hidup yang kau ambil dariku, satu musim akan hilang dari duniamu.”
Arin mundur perlahan. Ia membayangkan desa tanpa hujan, sawah tanpa panen.
“Aku tak akan mengambil apa pun,” katanya tegas.
Pohon itu berpendar lembut. Sebuah daun perak jatuh ke tangan Arin. “Bawalah ini sebagai pengingat. Keabadian bukan tentang hidup selamanya, melainkan menjaga agar kehidupan terus ada.”
Kabut kembali turun. Saat Arin menoleh, pulau itu lenyap seolah tak pernah ada.
Namun sejak hari itu, laut perlahan membaik. Arin tumbuh menjadi penjaga cerita, mengingatkan desanya bahwa keseimbangan alam lebih berharga daripada hidup abadi.
Baca juga: Dongeng Cinderella Singkat dalam Bahasa Inggris dan Terjemahannya
Dongeng Fantasi: Raksasa yang Menanam Gunung

Di ujung lembah yang dikelilingi kabut tebal, terdapat gunung-gunung raksasa yang tidak pernah retak.
Orang tua desa selalu bercerita bahwa gunung itu sebenarnya ditanam oleh raksasa kuno, penjaga bumi yang tidur selama ribuan tahun.
Seorang anak bernama Kael selalu penasaran. Ia sering memandang gunung dari jauh, bertanya-tanya bagaimana bisa batu-batu begitu besar berdiri tegak seakan hidup.
Suatu pagi, tanah bergetar lebih keras dari biasanya. Suara gemuruh terdengar seperti deru napas makhluk besar. Kael berlari menuju lembah dan melihat sesuatu yang menakjubkan, gunung terakhir mulai retak. Lava merah menyembur perlahan, mengalir ke hutan.
Tiba-tiba, batu-batu besar bergerak seperti makhluk hidup. Dari celah-celah gunung muncul sosok raksasa yang mengerikan tetapi agung.
“Kau melihat terlalu banyak, anak manusia,” suaranya bergema seperti gemuruh petir. “Gunung terakhirku retak karena keseimbangan bumi terganggu.”
Kael menelan ludah, tapi keberaniannya muncul. “Apa yang harus kulakukan?” tanyanya.
Raksasa menunduk. “Hanya yang bisa berbicara dengan batu dapat menyelamatkan tanah ini. Dengarkan mereka. Dengarkan suara bumi.”
Kael menempelkan telinganya pada batu besar, dan perlahan ia bisa mendengar bisikan lembut: akar ingin disiram hujan, sungai ingin mengalir, hutan ingin tetap berdiri.
Dengan hati-hati, Kael memimpin lava agar mengalir ke lembah yang kosong, bukan ke desa.
Gunung berhenti gemetar, lava membeku menjadi batu hitam yang indah. Raksasa tersenyum dan menunduk, kemudian perlahan menghilang ke dalam tanah.
Sejak hari itu, Kael dikenal sebagai anak yang bisa berbicara dengan bumi. Ia mengingatkan desanya untuk menjaga alam, karena gunung bukan sekadar batu, ia adalah makhluk hidup yang menunggu penjaga yang tulus.
Di balik setiap kisah tentang pohon harapan, pulau misterius, hingga bayangan yang berbicara, selalu ada pesan tentang keberanian, keseimbangan, dan penerimaan diri.
Itulah kekuatan dongeng fantasi, mampu menyentuh emosi, menghidupkan imajinasi, sekaligus menyampaikan nilai moral dengan cara yang hangat dan mudah diingat.
Jika kamu ingin menghadirkan konten storytelling yang kuat, terstruktur, dan SEO-friendly untuk website atau blog, Optimaise sebagai digital marketing agency Malang siap membantu melalui layanan jasa penulisan artikel profesional yang relevan dengan kebutuhan brand kamu.
Setelah menikmati kisah-kisah penuh imajinasi ini, jangan lewatkan juga artikel inspiratif lainnya, seperti contoh surat lamaran pekerjaan tulis tangan yang bisa kamu jadikan referensi praktis.
