Tidak semua ayat Al-Qur’an berbicara tentang ritual ibadah atau keimanan. Sebagian justru menegaskan tanggung jawab sosial manusia sebagai makhluk yang hidup bersama orang lain. Salah satunya terdapat dalam Ali Imran 104—sebuah ayat yang menegaskan peran umat Islam sebagai penggerak kebaikan, penjaga moral, dan penyeru jalan yang benar.
Ayat ini bukan hanya perintah, tetapi arah hidup. Ia menegaskan bahwa menjadi pribadi baik saja belum cukup; ada tanggung jawab untuk mengajak, mengingatkan, dan mencegah kemungkaran dengan cara yang bijak. Dari sinilah terbentuk masyarakat yang saling menjaga, bukan saling menjatuhkan.
Ali Imran 104 sering dijadikan dasar penting dalam pembahasan dakwah, pendidikan, dan tanggung jawab sosial umat. Pesannya sederhana, tetapi dampaknya sangat luas.
Table of Contents
Sekilas Tentang Surat Ali Imran 104

Ali Imran ayat 104 merupakan bagian dari Surah Ali Imran yang banyak membahas tentang keimanan, keteguhan, dan pembentukan masyarakat yang kuat secara spiritual dan moral.
Ayat ini berisi perintah agar ada sekelompok umat yang secara aktif mengajak kepada kebaikan, menyeru pada hal yang makruf, serta mencegah kemungkaran. Mereka inilah yang disebut sebagai orang-orang beruntung.
Konteksnya tidak hanya terbatas pada dakwah formal, tetapi juga menyentuh kehidupan sehari-hari: keluarga, lingkungan kerja, pendidikan, hingga kehidupan bermasyarakat.
Ali Imran 104 mengajarkan bahwa kebaikan harus dihidupkan bersama, bukan hanya dijalani sendiri.
Keutamaan Surat Ali Imran 104

Ayat ini memiliki keutamaan karena menjadi fondasi penting dalam kehidupan sosial umat Islam.
Beberapa nilai utama yang terkandung di dalamnya:
- Menjadi dasar kewajiban dakwah
- Menegaskan pentingnya amar makruf nahi munkar
- Mendorong terbentuknya masyarakat yang saling menjaga
- Menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sosial
- Menjadi penanda keberuntungan bagi orang yang mengamalkannya
Ayat ini mengingatkan bahwa keberuntungan bukan hanya soal materi, tetapi tentang kontribusi terhadap kebaikan bersama.
Baca Juga: Al Qasas Ayat 77: Menjaga Keseimbangan Dunia dan Akhirat dalam Satu Pesan Ilahi
Bacaan Surat Ali Imran 104
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Arab-Latin: Waltakum mingkum ummatuy yad’ụna ilal-khairi wa ya`murụna bil-ma’rụfi wa yan-hauna ‘anil-mungkar, wa ulā`ika humul-mufliḥụn
Artinya: Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.
Tafsir Surat Ali Imran 104
Ayat ini dimulai dengan perintah agar ada “sekelompok umat” yang mengajak kepada kebaikan. Kata ini menunjukkan pentingnya kerja kolektif—bahwa perubahan tidak bisa dilakukan sendirian.
Seruan kepada kebaikan berarti mengajak manusia pada hal yang bermanfaat, mendidik, memperbaiki, dan menenangkan.
Kemudian disebutkan perintah amar makruf, yaitu mendorong pada hal-hal yang baik menurut ajaran agama dan nilai moral universal: kejujuran, keadilan, kepedulian, dan tanggung jawab.
Lalu diikuti nahi munkar, yakni mencegah hal-hal yang merusak: kezaliman, kebohongan, penindasan, dan perbuatan yang merugikan orang lain.
Ayat ini tidak mendorong sikap menghakimi, melainkan mengingatkan dengan hikmah. Amar makruf nahi munkar dilakukan dengan kelembutan, bukan kekerasan.
Penutup ayat menyebut mereka sebagai al-muflihun—orang-orang yang beruntung. Keberuntungan di sini bukan sekadar keberhasilan dunia, tetapi keselamatan hidup secara menyeluruh.
Kisah Turunnya Surat Ali Imran 104 (Asbabun Nuzul)
Ayat ini turun dalam konteks pembentukan masyarakat Islam di Madinah. Saat itu, umat Islam tidak hanya dituntut kuat secara iman, tetapi juga solid sebagai sebuah komunitas.
Tantangan datang dari berbagai arah: perbedaan pendapat, pengaruh budaya lama, hingga tekanan dari luar. Dalam kondisi seperti itu, diperlukan kelompok yang menjaga nilai-nilai kebaikan tetap hidup.
Ayat ini menjadi pengingat bahwa masyarakat yang baik tidak terbentuk secara otomatis. Ia lahir dari orang-orang yang berani mengingatkan dan peduli.
Asbabun nuzul ayat ini menekankan pentingnya peran sosial umat Islam: menjadi penyeru kebaikan, bukan penonton.
Cara Mengamalkan Nilai Surat Ali Imran 104 dalam Kehidupan Sehari-Hari
Mengamalkan ayat ini tidak selalu berarti berdakwah di mimbar. Banyak bentuk sederhana yang bisa dilakukan.
Memulai dari keluarga
Mengajarkan kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab kepada anak.
Menjadi teladan di lingkungan kerja
Bersikap jujur, profesional, dan tidak merugikan orang lain.
Menggunakan media sosial secara bijak
Menyebarkan informasi bermanfaat, bukan hoaks atau kebencian.
Menegur dengan cara yang baik
Tidak mempermalukan, tetapi mengingatkan dengan empati.
Membangun komunitas positif
Mendukung kegiatan sosial, pendidikan, dan kemanusiaan.
Nilai utama ayat ini adalah keberanian untuk peduli. Tidak diam ketika melihat keburukan, tetapi juga tidak kasar dalam mengingatkan.
Baca Juga: Memahami Dua Ayat Terakhir Surat Al Baqarah, Sebuah Penutup yang Menguatkan Iman kepada Allah
Tanya Jawab Seputar Surat Ali Imran 104
Apakah semua orang wajib berdakwah?
Ya, dalam kapasitas masing-masing. Dakwah tidak selalu ceramah, tetapi bisa lewat tindakan dan keteladanan.
Apa arti amar makruf nahi munkar?
Mengajak kepada kebaikan dan mencegah keburukan.
Bagaimana cara menegur yang baik?
Dengan lembut, tidak merendahkan, dan bertujuan memperbaiki.
Apakah ayat ini hanya untuk ulama?
Tidak. Ayat ini berlaku bagi seluruh umat.
Mengapa disebut orang beruntung?
Karena mereka tidak hanya memperbaiki diri, tetapi juga lingkungan.
Sama halnya dengan Doa Yasin, Ali Imran 104 adalah ayat tentang tanggung jawab. Ia mengajarkan bahwa menjadi baik saja tidak cukup—kebaikan perlu disebarkan, dijaga, dan diperjuangkan bersama.
Di zaman sekarang, makna ayat ini terasa semakin relevan. Ketika informasi begitu cepat menyebar, ketika keburukan mudah terlihat, dan ketika manusia sering memilih diam, ayat ini mengajak untuk tetap peduli.
Mengajak pada kebaikan tidak harus melakukan hal besar. Kadang cukup dengan satu kalimat, satu tindakan, atau satu contoh yang menginspirasi.
Karena perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil.
Ayat ini juga mengingatkan bahwa keberuntungan sejati bukan hanya soal hidup nyaman, tetapi tentang hidup yang memberi manfaat. Ketika seseorang mampu membantu orang lain menjadi lebih baik, di situlah makna ayat ini hidup.
Ali Imran 104 bukan sekadar perintah dakwah. Ia adalah ajakan untuk membangun dunia yang lebih baik—pelan, konsisten, dan penuh hikmah.
Dan mungkin, keberuntungan yang disebut di akhir ayat itu bukan datang tiba-tiba, tetapi tumbuh dari keberanian untuk peduli.
Sebagai penutup, untuk Anda yang saat ini sedang mencari Digital Marketing Agency Malang, dengan layanan Jasa SEO, maka Optimaise adalah pilihan terbaik. Dengan layanan jasa SEO terbaik, Optimaise siap membantu website milik Anda masuk peringkat satu dari mesin pencari!
