Tips

9 Dongeng Kerajaan Romantis dengan Nuansa Klasik hingga Dark Romance

Tiara Motik

5 Dongeng Kerajaan Romantis dengan Nuansa Klasik hingga Dark Romance

Dongeng kerajaan selalu menjadi cerita yang menarik hati banyak orang, bukan hanya karena kemegahan istana dan intrik politik, tetapi juga karena kisah cinta yang terjalin di balik dinding-dinding megah tersebut.

Dalam dunia dongeng kerajaan, setiap cerita punya cara unik mengungkapkan perasaan, ada yang lembut membelai hati, ada pula yang menguji batas keberanian.

Artikel ini mengajak kamu menyelami beberapa dongeng kerajaan romantis yang menghadirkan nuansa berbeda, mulai dari klasik yang penuh harapan hingga dark romance yang menggugah emosi terdalam.

Dongeng Kerajaan Romantis: Di Balik Pintu Istana

Dongeng Kerajaan Romantis: Di Balik Pintu Istana
Dongeng Kerajaan Romantis: Di Balik Pintu Istana

Di sebuah kerajaan yang megah namun diselimuti bayang-bayang kelam, berdirilah Istana Asterielle, tempat di mana setiap pintu menyimpan rahasia, dan setiap senyum mengandung siasat.

Di sanalah tinggal Putri Seraphine, gadis berparas lembut yang hidup dalam sangkar emas. Semua orang memujanya, namun hanya sedikit yang tahu bahwa hatinya terkurung oleh aturan istana yang dingin.

Setiap malam, ketika lonceng ke-12 berdentang, Seraphine diam-diam melangkah melewati koridor marmer menuju perpustakaan tua, ruangan yang konon telah ditutup sejak bertahun-tahun lalu.

Namun, di balik pintunya yang berat terdapat seseorang yang tidak seharusnya ada di sana, Lucien, ksatria buangan yang namanya dihapus dari catatan kerajaan karena tuduhan pengkhianatan yang tidak pernah terbukti.

Mereka telah bertemu tanpa sengaja beberapa bulan lalu, ketika Seraphine kepergok memasuki ruangan terlarang itu.

Alih-alih berlutut, Lucien hanya menatapnya dengan sorot yang tajam namun menyiratkan luka yang dalam. Sejak malam itu, mereka berbagi percakapan yang tidak boleh diketahui siapa pun, tentang kebebasan, kesepian, dan kebenaran yang dikunci rapat jauh di dalam istana.

Namun, bayang-bayang penguasa kerajaan selalu mengikuti. Raja Aldric, ayah Seraphine, dikenal sebagai pemimpin kejam yang rela mengorbankan apa pun demi mempertahankan kekuasaan. Ia tidak hanya membuang Lucien, tetapi juga menyimpan rahasia lain, bahwa tuduhan pengkhianatan itu dibuat agar Lucien tidak bisa mendekati Seraphine.

Hubungan mereka tumbuh dalam senyap, seperti bunga yang mekar di atas tanah kuburan. Seraphine merasakan kehangatan yang tak pernah diberikan istana, sementara Lucien menemukan harapan yang ia pikir telah hilang. Namun keduanya tahu cinta itu rapuh, berdiri di antara dinding kekuasaan yang kejam.

Suatu malam, ketika hujan menampar jendela istana, Lucien membuka sebuah gulungan surat tua, bukti bahwa Raja Aldric memerintahkan pengkhianatan yang sesungguhnya kepada kerajaan tetangga. Bukti yang dapat menggulingkan sang raja… sekaligus menghancurkan seluruh keluarga Seraphine.

“Jika aku membawanya ke dunia luar,” bisik Lucien, “kau akan bebas. Tapi ayahmu… tidak akan tersisa.”

Seraphine menatapnya, hatinya diguncang antara cinta dan darah. Di balik pintu istana yang tertutup itu, dua jiwa tersesat memilih jalan yang sama, cinta yang gelap, penuh luka, namun tetap menggeliat, menuntut untuk diperjuangkan.

Di sanalah kisah mereka dimulai, bukan untuk bahagia selamanya, tetapi untuk bertahan dari istana yang ingin memusnahkan cinta itu sepenuhnya.

Baca juga: Tokoh dan Watak dalam Dongeng Kelinci dan Kura-kura yang Perlu Kamu Tahu

Dongeng Kerajaan Romantis: Pengungsi Istana Lama

Dahulu, Kerajaan Valendria berdiri megah, penuh kemegahan dan kedamaian. Namun, bayang-bayang perang dan pengkhianatan datang tanpa ampun, menggulingkan takhta dan menghancurkan mimpi yang pernah terajut.

Di tengah reruntuhan itu, Putri Elara, penguasa muda yang baru menginjak usia dua puluh, terpaksa melarikan diri bersama beberapa pengawal setianya. Mereka menjadi pengungsi di negeri asing, terasing dari istana yang dulu ia sebut rumah.

Di sebuah desa kecil di ujung kerajaan tetangga, Elara hidup dalam bayang-bayang masa lalunya. Pakaian bangsawan telah diganti dengan kain sederhana, mahkota dilepas, digantikan dengan tudung yang menutupi rambut panjangnya yang mulai memutih karena stres dan air mata. Ia belajar untuk menyembunyikan siapa dirinya sebenarnya demi keselamatan.

Suatu hari, seorang kesatria bernama Rian datang ke desa itu dengan tugas menjaga keamanan wilayah. Rian bukanlah sosok asing bagi Elara, dulu, ia adalah prajurit kerajaan yang pernah bertarung di samping ayahnya, namun kini ia menjadi bayang-bayang masa lalu yang sulit ditepis.

Awalnya, pertemuan mereka dingin dan penuh ketegangan. Rian tahu Elara bukan sekadar perempuan desa biasa, tapi ia enggan bertanya dan menyimpan rahasia itu sendiri.

Elara pun memilih untuk tetap menjaga jarak, takut bahwa kehadiran Rian akan menarik perhatian musuh lama yang mungkin masih memburunya.

Namun, malam demi malam, obrolan singkat di balik api unggun mulai mencairkan kebekuan. Rian bercerita tentang peperangan, kehilangan, dan harapan yang pernah ia simpan.

Elara mendengar dengan hati yang rapuh, menemukan kekuatan dalam kata-kata seorang pria yang tahu bagaimana kehilangan terasa.

Ketika musim berganti, kedekatan mereka berkembang perlahan. Tidak ada janji manis atau kata-kata indah, hanya kehadiran yang saling menguatkan dalam dunia yang penuh keraguan dan bahaya.

Tetapi bayang-bayang masa lalu tidak pernah benar-benar pergi. Kabar tentang putri pengungsi beredar ke istana lama, memancing para pemburu bayaran yang haus akan hadiah dan kekuasaan.

Dalam pergulatan antara cinta dan keselamatan, Elara dan Rian harus memilih, apakah mereka akan berjuang untuk masa depan bersama, atau terperangkap oleh luka lama yang mengancam untuk menghancurkan segalanya?

Malam itu, saat angin dingin menyusup lewat celah-celah kayu gubuk sederhana mereka, Elara terjaga dari mimpi buruk yang menggigilkan tubuhnya. Di luar, suara langkah berat mendekat, jauh lebih banyak daripada yang seharusnya lewat jalan desa itu.

Rian segera berdiri, matanya menyapu kegelapan, mencari sumber ancaman yang menghampiri. “Mereka datang,” bisiknya pelan, penuh kecemasan namun berusaha tetap tenang.

Elara tahu arti kata itu, para pemburu bayaran, tentara bayaran, atau bahkan mata-mata dari istana lama yang ingin memastikan tak ada sisa putri yang hidup. Mereka tidak akan berhenti sampai Elara ditemukan, dan tak peduli siapa yang harus dikorbankan.

Dengan napas berat, Elara menggenggam tangan Rian. “Apa kita masih bisa lari?”

Rian menatapnya dalam, lalu dengan tegas berkata, “kita harus bertahan. Ini bukan saatnya lagi bersembunyi.”

Detik-detik berikutnya menjadi hening, hanya suara jantung mereka yang berdetak kencang. Di balik tirai gelap malam, bayangan-bayangan mulai menyeruak dari kegelapan, menghampiri gubuk yang menjadi satu-satunya tempat perlindungan Elara.

Di sinilah segalanya akan berubah, antara keselamatan dan pengkhianatan, antara harapan dan kehancuran.

Apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan gelombang kegelapan yang akan menerjang?

Atau justru bayang-bayang masa lalu akan menelan mereka utuh, menghapus sisa-sisa kerajaan lama yang masih tersisa?

Hanya waktu yang akan menjawab.

Dongeng Kerajaan Romantis: Langkah di Lorong Utara

Dongeng Kerajaan Romantis: Langkah di Lorong Utara
Dongeng Kerajaan Romantis: Langkah di Lorong Utara

Di Istana Eldoria, terdapat sebuah lorong panjang di sisi utara yang jarang dilalui orang. Lorong itu terasa sepi dan sunyi, hanya diisi oleh gema langkah kaki yang jarang terdengar. Namun, lorong itu menjadi saksi bisu sebuah kisah kecil yang perlahan tumbuh di antara dua jiwa.

Amara, seorang pelayan muda yang baru saja mulai bekerja di istana, sering melewati lorong itu setiap pagi untuk menuju dapur. Ia selalu merasa sedikit takut karena lorong itu gelap dan hampa, bahkan cerita-cerita tentang penampakan di sana mulai beredar di antara para pelayan.

Suatu hari, saat Amara berjalan melewati lorong itu, ia tiba-tiba terhenti karena mendengar langkah kaki lain yang tak seharusnya ada di sana. Dari balik bayangan, muncul seorang kesatria muda bernama Kael, yang ditugaskan menjaga sudut utara istana.

Kael melihat Amara dengan senyum hangat yang membuat hati pelayan itu berdebar. “Lorong ini memang sunyi, tapi aku biasanya di sini,” katanya lembut. Sejak hari itu, Kael selalu menemani Amara melewati lorong itu, membuatnya merasa lebih aman dan nyaman.

Mereka mulai berbicara tentang hal-hal kecil, tentang bunga yang mekar di taman istana, tentang lagu favorit mereka, dan impian yang sederhana. Tak terasa, langkah mereka di lorong utara itu berubah menjadi waktu yang paling dinanti Amara setiap hari.

Hari-hari berikutnya, Kael dan Amara semakin sering bertemu di lorong utara. Mereka tak lagi sekadar berbagi cerita ringan, tapi mulai mengenal satu sama lain lebih dalam, mimpi, kekhawatiran, dan rasa rindu yang tak pernah diungkapkan.

Amara sering membawa bunga kecil dari taman dan menyelipkannya di jubah Kael, sementara Kael selalu mengingatkan Amara untuk berhati-hati saat melewati sudut-sudut istana yang licin. Perlahan, lorong itu berubah menjadi tempat pelarian mereka, ruang di mana dunia istana yang rumit terasa jauh dan tak berdaya.

Suatu malam, saat bintang-bintang mulai berkelip, Kael mengajak Amara berjalan-jalan di bawah sinar rembulan. Di lorong utara yang kini terasa hangat, ia berhenti dan memandang matanya.

“Amara,” katanya pelan, “kau membuat tempat ini jadi bukan lagi lorong sepi. Kau membuatnya menjadi rumah.”

Amara tersenyum, rasa hangat menjalar di dadanya. Tanpa kata-kata, ia menggenggam tangan Kael lebih erat.

Meski mereka tahu status dan dunia mereka berbeda, kedekatan itu memberi mereka keberanian untuk percaya bahwa cinta sederhana bisa tumbuh di tempat yang paling tak terduga.

Dan di lorong utara itulah, dengan langkah yang dulu takut dan ragu, mereka kini melangkah bersama, menatap masa depan yang penuh harapan.

Dongeng Kerajaan Romantis: Senandung Pagi Istana

Di balik kemegahan Istana Luminara, pagi selalu disambut dengan kesibukan dan ritual yang penuh aturan. Namun, ada satu hal yang membuat pagi di istana itu berbeda, senandung lembut yang mengalun setiap hari dari sudut taman dalam, mengisi udara dengan kehangatan dan ketenangan.

Senandung itu berasal dari Elin, pelayan muda yang baru saja mulai bekerja di istana. Dengan suara ringan dan penuh harapan, ia selalu bernyanyi sambil menyiram bunga atau menata meja makan kerajaan. Lagu-lagu itu adalah warisan dari ibunya, sebuah penghiburan di saat-saat sulit.

Pangeran Aidan, pewaris tahta yang dikenal serius dan kerap tenggelam dalam tanggung jawab, jarang tersenyum. Namun, setiap pagi ia bangun lebih awal dan menyusuri lorong istana, tertarik oleh suara itu yang seolah mengusir beban berat dari hatinya.

Suatu pagi, tanpa sengaja Aidan mengikuti suara itu hingga tiba di taman dalam. Di sana ia melihat Elin duduk di bangku batu, matanya menatap bunga-bunga yang mulai mekar, bibirnya mengalunkan lagu dengan penuh kelembutan.

Elin terkejut ketika menyadari ada mata yang mengamati dari kejauhan. Ia berhenti bernyanyi, namun Aidan hanya tersenyum lembut dan berkata, “suaramu… membuat pagi ini terasa lebih ringan.”

Hari-hari berikutnya, Aidan menyempatkan diri mendengarkan senandung Elin. Mereka mulai bertukar kata, berbicara tentang hal-hal sederhana: warna bunga favorit, cerita masa kecil, dan mimpi yang belum sempat terwujud.

Elin menemukan bahwa pangeran yang selama ini terlihat dingin, ternyata menyimpan kerinduan akan sesuatu yang lebih hangat dan manusiawi. Sedangkan Aidan, untuk pertama kalinya, merasa ada seseorang yang memahami dirinya tanpa harus memakai topeng kebangsawanan.

Suatu pagi yang cerah, Aidan mengajak Elin berjalan menyusuri taman. Di bawah sinar matahari yang lembut, ia menggenggam tangan Elin dan berkata, “kau adalah senandung yang kuharap selalu menemani pagiku.”

Elin tersenyum malu, hatinya penuh haru. Di tengah megahnya istana dan tugas yang berat, mereka menemukan satu sama lain, kehangatan yang manis dan lembut, seperti sinar pagi yang membelai jendela, membawa harapan baru bagi hati yang lama tertutup.

Dan senandung pagi itu, kini bukan hanya lagu seorang pelayan, tapi juga melodi cinta yang tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.

Baca juga: Mengenal Dongeng Danau Toba, Cerita Rakyat yang Sarat Pesan Moral

Dongeng Kerajaan Romantis: Putra Mahkota dan Gadis Perpustakaan

Dongeng Kerajaan Romantis: Putra Mahkota dan Gadis Perpustakaan
Dongeng Kerajaan Romantis: Putra Mahkota dan Gadis Perpustakaan

Di sebuah kerajaan yang megah dan penuh aturan, terdapat perpustakaan tua yang menjadi tempat berkumpulnya ilmu pengetahuan dan sejarah panjang bangsa itu.

Di balik rak-rak buku yang menjulang tinggi, hidup seorang gadis bernama Mira, penjaga perpustakaan yang cerdas dan tekun. Ia bukan sekadar pelayan, ia adalah jiwa yang mencintai buku dan rahasia yang tersimpan di dalamnya.

Putra Mahkota Alaric, pewaris tahta yang dikenal tegas dan serius, jarang meninggalkan istana untuk kesibukan kerajaan.

Namun, suatu hari ia sengaja memasuki perpustakaan, tertarik pada sebuah naskah kuno yang tak banyak orang tahu. Di sana, ia bertemu Mira, perempuan yang berbeda dari bangsawan istana yang biasa ia temui.

Mira menyambutnya dengan senyum ramah, tanpa rasa takut atau segan. Mereka mulai berbicara tentang buku-buku, sejarah kerajaan, dan hal-hal sederhana yang jarang diucapkan dalam pertemuan resmi.

Alaric merasa lega bisa berbicara dengan seseorang yang tidak memandangnya sebagai pewaris tahta, melainkan sebagai manusia biasa.

Hari-hari berlalu, dan setiap kali Alaric datang ke perpustakaan, Mira selalu menanti dengan segenggam buku baru dan cerita baru. Mereka bertukar pandangan, tawa kecil, dan pemahaman yang tumbuh tanpa harus diucapkan.

Namun, tak mudah bagi mereka. Status sosial menjadi penghalang yang besar. Bangsawan istana tak setuju putra mahkota dekat dengan seorang gadis biasa, apalagi penjaga perpustakaan. Gosip mulai tersebar, mengancam kedamaian yang telah mereka bangun.

Di suatu malam yang sunyi, Alaric menemui Mira di perpustakaan. Dengan suara lembut, ia berjanji, “tak peduli apa kata dunia, aku ingin kau tahu bahwa hatiku memilihmu, bukan karena status, tapi karena siapa dirimu.”

Mira menatapnya dengan mata berkaca-kaca, merasakan keberanian yang tumbuh dari kata-kata itu.

Mereka tahu jalan di depan penuh tantangan, namun cinta yang lahir di antara buku-buku dan lorong sunyi itu memberi mereka kekuatan.

Dalam dunia istana yang penuh aturan dan rahasia, mereka menemukan satu sama lain, bukan sebagai putra mahkota dan gadis perpustakaan, tapi sebagai dua jiwa yang saling mengerti dan merindukan kebebasan cinta.

Dongeng Kerajaan Romantis: Putri dan Ksatria yang Tak Pernah Pulang Sebelum Senja

Di Kerajaan Valerion, orang-orang percaya bahwa senja adalah waktu paling berbahaya. Bukan karena gelap, melainkan karena batas antara janji dan pengkhianatan menjadi tipis.

Karena itulah Sir Kaelan bersumpah: ia tak akan pernah kembali ke istana setelah matahari tenggelam.

Ia adalah ksatria pilihan Putri Arsenia, bukan karena darah bangsawan, melainkan karena kesetiaannya yang tak tergoyahkan. Setiap sore, sebelum langit berubah jingga, Arsenia berdiri di menara timur.

Dan seperti detak jam yang setia, Kaelan selalu muncul di halaman, menunduk hormat sebelum senja benar-benar turun.

Hingga suatu hari, perang kecil pecah di perbatasan.

Senja datang, tetapi gerbang tetap kosong. Angin membawa kabar buruk, dan Arsenia menunggu lebih lama dari biasanya.

Ketika akhirnya langkah kaki terdengar di pelataran istana, langit telah sepenuhnya gelap.

Kaelan berdiri di sana, terluka, napasnya berat. Namun bukan darah di zirahnya yang membuat Arsenia gemetar. Matanya berubah, seperti seseorang yang baru saja memilih sesuatu yang tak bisa dibatalkan.

Ia mengaku telah melanggar sumpah lamanya. Bertahun-tahun lalu, ia membuat janji pada Dewi Senja, selama ia pulang sebelum matahari tenggelam, nyawanya akan dilindungi dalam setiap pertempuran. Jika ia terlambat sekali saja, perlindungan itu lenyap selamanya.

“Aku tahu risikonya,” katanya pelan. “Tapi aku tak ingin kau menunggu sendirian lagi.”

Sejak malam itu, Kaelan tak lagi memiliki perlindungan ilahi. Setiap pertempuran menjadi lebih berbahaya. Namun setiap sore, Arsenia tak lagi hanya menunggu, ia turun ke gerbang, berdiri di sisinya sebelum senja tiba.

Dan untuk pertama kalinya, Kaelan menyadari, ia tak pernah benar-benar pulang sebelum senja demi keselamatan.

Ia pulang karena ada seseorang yang membuatnya ingin tetap hidup.

Dongeng Kerajaan Romantis: Taman Mawar Terakhir di Kerajaan

Dongeng Kerajaan Romantis: Taman Mawar Terakhir di Kerajaan
Dongeng Kerajaan Romantis: Taman Mawar Terakhir di Kerajaan

Kerajaan Avelorn pernah dikenal sebagai negeri seribu bunga. Namun sejak kutukan turun dua belas tahun lalu, tak ada yang tumbuh selain salju dan keheningan. Ladang mengering, pepohonan membatu, dan warna seolah dihapus dari dunia.

Hanya satu tempat yang tersisa, sebuah taman mawar di jantung istana.

Taman itu tersembunyi di balik gerbang besi hitam, dijaga langsung oleh Raja muda Caelum. Tak ada pelayan yang boleh masuk.

Tak ada bangsawan yang diizinkan melihatnya. Di sanalah, mawar-mawar merah gelap tetap mekar, seolah musim tak berani menyentuhnya.

Orang-orang mengira itu sihir.

Yang tak mereka tahu, setiap kelopak hidup dari sesuatu yang lebih rapuh dari sihir: penyesalan.

Bertahun-tahun lalu, sebelum menjadi raja, Caelum menolak seorang gadis penenun istana yang mencintainya dalam diam. Ia memilih perjodohan politik demi takhta.

Malam sebelum gadis itu meninggalkan kerajaan, ia berkata, “Suatu hari nanti, saat semua membeku, kau akan tahu apa yang benar-benar kau butuhkan.”

Keesokan paginya, musim dingin datang dan tak pernah pergi.

Suatu sore, seorang wanita muda datang ke istana membawa benang-benang emas untuk dijual. Wajahnya mengingatkan Caelum pada seseorang yang hampir ia lupakan, mata yang sama, keberanian yang sama.

Namanya Lyra. Putri dari penenun yang dulu ia abaikan.

Tanpa izin, Lyra memasuki taman mawar. Anehnya, bunga-bunga itu tak menghitam di bawah langkahnya. Justru, warna mereka tampak lebih terang.

“Kau merawat ini sendirian?” tanyanya.

Caelum mengangguk.

“Bunga tak tumbuh dari penyesalan, Yang Mulia,” katanya lembut. “Mereka tumbuh dari keberanian untuk memilih lagi.”

Sejak hari itu, Lyra datang bukan sebagai bayangan masa lalu, melainkan sebagai kemungkinan baru. Perlahan, mawar-mawar mulai menyebar melampaui gerbang besi.

Dan untuk pertama kalinya sejak kutukan turun, musim semi berani mengetuk kembali pintu kerajaan.

Dongeng Kerajaan Romantis: Gaun Perak untuk Tiga Pesta

Di Kerajaan Ethelia, hukum lama menetapkan bahwa calon permaisuri harus hadir dalam tiga pesta musim dingin dan memikat hati rakyat, bukan hanya pangeran.

Gaun yang dikenakan pada tiap pesta akan dinilai sebagai lambang keanggunan dan martabat.

Di sebuah rumah kecil dekat tembok kota, hidup seorang pembuat renda bernama Alina. Ia tak pernah bermimpi menghadiri pesta istana, hingga suatu malam, seorang perempuan asing menitipkan peti kayu berisi gaun perak yang berkilau lembut.

“Pakailah pada pesta pertama,” pesan perempuan itu. “Namun ingat, setiap kilau ada harganya.”

Pada pesta pertama, gaun itu memantulkan cahaya lilin seperti embun di bawah bulan. Pangeran Lucien menari dengannya, terpikat oleh ketenangannya, bukan hanya kilaunya. Ketika malam usai, sedikit cahaya dari gaun itu memudar.

Pada pesta kedua, gaun perak itu bersinar lebih terang, hampir menyilaukan. Rakyat bertepuk tangan, dan Lucien mulai berharap ia akan memilihnya. Namun Alina merasakan sesuatu hilang, seolah setiap pujian mengikis bagian kecil dari dirinya.

Pada pesta ketiga, kilau gaun menjadi nyaris seperti cermin. Semua orang melihat pantulan diri mereka sendiri di sana.

Saat Lucien menggenggam tangannya, Alina menyadari kebenaran: gaun itu menyerap kehangatan hatinya untuk tetap bersinar.

Sebelum lonceng terakhir berdentang, ia melepaskan jubah perak itu dan berdiri dengan pakaian sederhana. Aula terdiam.

“Aku tak ingin dipilih karena cahaya yang bukan milikku,” katanya.

Keheningan berubah menjadi bisikan, lalu tepuk tangan. Lucien tersenyum, bukan pada kemewahan yang hilang, melainkan pada keberanian yang tersisa.

Gaun perak itu berubah menjadi debu cahaya dan menghilang. Namun malam itu, untuk pertama kalinya, istana bersinar bukan karena sihir, melainkan karena seorang gadis yang memilih menjadi dirinya sendiri.

Dongeng Kerajaan Romantis: Musik Harpa di Balik Tirai Emas

Dongeng Kerajaan Romantis: Musik Harpa di Balik Tirai Emas
Dongeng Kerajaan Romantis: Musik Harpa di Balik Tirai Emas

Di Kerajaan Aurellia, ada satu aturan yang tak pernah dilanggar, musisi istana tak boleh menampakkan wajahnya di hadapan raja.

Tradisi lama itu lahir dari kisah pengkhianatan, ketika seorang raja jatuh cinta pada penyanyi yang ternyata mata-mata musuh. Sejak saat itu, setiap pertunjukan dimainkan dari balik tirai emas.

Raja muda Cassian mewarisi takhta sekaligus aturan tersebut. Ia dikenal tegas, rasional, dan tak mudah tersentuh emosi. Namun semua itu berubah sejak malam pertama ia mendengar alunan harpa dari balik tirai.

Petikan nadanya lembut, namun dalam, seolah setiap senar menyimpan rahasia. Musik itu tak hanya memenuhi aula, tetapi juga mengisi ruang-ruang sunyi dalam dirinya yang tak pernah ia akui ada.

“Siapa dia?” tanya Cassian pada penasihatnya.

“Hanya seorang pemain harpa, Yang Mulia. Namanya Lysandra.”

Sejak malam itu, raja meminta harpa dimainkan setiap senja. Ia tak pernah melihat wajah Lysandra, tetapi mengenali perasaannya lewat nada.

Saat ia lelah, musiknya menjadi hangat. Saat ia gelisah, petikannya berubah tenang. Seolah ia dipahami tanpa perlu bicara.

Namun bisik-bisik istana mulai beredar. Bangsawan khawatir raja melemah karena suara seorang wanita yang tak terlihat. Mereka mendesak agar tirai emas dibuka dan identitas sang musisi diperiksa.

Pada malam festival panen, Cassian berdiri di hadapan seluruh istana. Ketika harpa mulai berbunyi, ia melangkah sendiri menuju tirai emas.

Aula terdiam.

Dengan satu gerakan, ia menyingkap kain berkilau itu.

Di sana berdiri Lysandra, bukan mata-mata, bukan bangsawan, hanya wanita dengan mata yang tenang dan jemari yang gemetar di atas senar.

“Tradisi dibuat untuk melindungi,” ujar Cassian pelan. “Bukan untuk memisahkan hati.”

Sejak malam itu, harpa tak lagi dimainkan dari balik tirai. Dan di antara nada-nada yang mengalun, cinta tumbuh, bukan karena wajah yang dilihat, melainkan karena jiwa yang lebih dulu terdengar.

Dongeng kerajaan selalu menyuguhkan kisah-kisah yang kaya makna, mulai dari cerita klasik penuh kelembutan hingga dark romance yang sarat emosi. Melalui dongeng kerajaan, kita bisa merasakan perjalanan cinta dan petualangan yang menginspirasi sekaligus menghibur.

Untuk kamu yang ingin mengembangkan konten berkualitas dan memperkuat visibilitas online, Optimaise sebagai digital agency Malang siap mendukung dengan jasa penulisan artikel.

Jangan lupa juga untuk menjelajahi artikel dongeng pendek anak SD yang cocok untuk menumbuhkan imajinasi dan nilai positif pada buah hati.

Baca Juga

Optimaise