Malam hari sering menjadi momen paling tenang untuk menutup hari yang panjang, dan apa yang lebih hangat dari membacakan dongeng sebelum tidur untuk pacar?
Kali ini, kamu tidak hanya akan mendengar cerita biasa, tapi kisah-kisah manis dan ringan yang bisa membuat senyummu muncul tanpa perlu alasan besar.
Setiap cerita dirancang agar kamu merasa dekat dengan pasanganmu, meski hanya lewat kata-kata, dan meninggalkan rasa nyaman sebelum kamu memejamkan mata. Dengan dongeng sebelum tidur untuk pacar ini, malam kamu akan terasa lebih hangat, manis, dan penuh keakraban.
Table of Contents
Dongeng Sebelum Tidur untuk Pacar: Putri yang Menyembunyikan Senyum

Dulu, di sebuah kerajaan kecil yang selalu diselimuti awan tipis, hiduplah seorang putri yang jarang tersenyum. Bukan karena sombong, tapi karena setiap kali ia tersenyum, hujan turun di seluruh negeri.
Awalnya orang-orang senang, hujan membawa kesuburan dan kesejukan. Tapi lama-lama, setiap senyum sang putri berarti ladang banjir dan jalanan becek.
Akhirnya, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak tertawa lagi. Ia belajar menahan tawa di balik kipas, belajar menatap lurus tanpa ekspresi, bahkan menutup diri dari pesta istana.
Sampai suatu hari datang seorang pengembara. Ia tidak tahu apa-apa tentang kutukan itu. Ia hanya melihat seorang gadis yang matanya menyimpan banyak hal yang ingin disampaikan. Ia bercerita dengan canggung, membuat lelucon yang tidak lucu, dan entah bagaimana, membuat sang putri hampir tertawa.
Saat hujan mulai menetes dari langit, semua orang panik. Tapi pengembara itu malah menatap langit dan berkata, “kalau hujan datang setiap kali kamu tersenyum, biarlah dunia basah. Paling tidak, mereka tahu kamu bahagia.”
Putri itu akhirnya tertawa, lepas, jujur, dan untuk pertama kalinya tidak menyesal. Hujan turun deras malam itu, tapi anehnya tidak ada yang marah. Anak-anak berlarian di luar, orang-orang menyalakan lampu, dan udara terasa lebih hidup.
Sejak saat itu, sang putri tak lagi menyembunyikan senyumnya. Ia sadar, mungkin dunia memang butuh sedikit hujan… supaya bisa tumbuh sesuatu yang baru.
Baca juga: 6 Dongeng Sebelum Tidur Lucu yang Bikin Senyum Sendiri
Dongeng Sebelum Tidur untuk Pacar: Dua Orang dan Semangkuk Mie Rebus
Malam itu hujan turun pelan. Bukan badai, tapi cukup untuk membuat udara jadi dingin dan jalanan beruap. Di dapur kecil yang lampunya agak redup, dua orang duduk di depan panci yang mendidih.
“Aku cuma punya satu bungkus,” katanya sambil menatap isi panci.
“Ya udah, bagi dua,” jawab yang satu lagi, setengah bercanda.
Mereka tertawa kecil. Bau mie rebus, campur aroma bawang goreng dan sedikit cabai, memenuhi ruangan. Tidak ada lilin, tidak ada musik lembut, tidak ada kata romantis, tapi suasananya tenang. Nyaman dengan cara yang susah dijelaskan.
Mereka makan dari mangkuk yang sama. Sendoknya dua, tapi kadang saling tunggu giliran. “Kamu dulu aja,” katanya.
“Nanti keburu lembek,” balas yang lain. Hal-hal kecil seperti itu membuat waktu berjalan lambat.
Di luar, suara hujan seperti irama yang lembut. Mereka tidak bicara banyak, tapi keheningan itu tidak canggung. Justru di situlah semua terasa cukup, tidak berlebihan, tidak kurang.
Setelah mie habis, yang satu menatap panci kosong dan berkata, “lucu ya, cuma semangkuk mie, tapi rasanya kayak makan di restoran paling mahal.”
Yang lain tertawa pelan, lalu menjawab, “iya, karena bukan mienya yang bikin enak, tapi orang yang duduk di depan aku.”
Hujan belum berhenti malam itu, tapi hangatnya sudah cukup untuk menutupi dingin di luar jendela. Kadang cinta memang sesederhana itu, cuma dua orang dan semangkuk mie rebus, tapi rasanya seperti dunia ikut tersenyum.
Dongeng Sebelum Tidur untuk Pacar: Waktu Lima Menit Sebelum Tidur

Malam sudah larut. Suara kendaraan di luar mulai hilang satu per satu, digantikan oleh dengung kipas angin dan cahaya layar ponsel yang masih menyala. Dua orang masih saling kirim pesan, walau mata sudah mulai berat.
“Masih bangun?”
“Iya. Kamu?”
“Ngantuk sih, tapi belum mau tidur.”
Percakapan itu hampir sama setiap malam, sederhana, tapi entah kenapa nggak pernah membosankan. Kadang mereka cerita sedikit tentang hari itu, kadang cuma saling mengeluh capek, atau saling mengingatkan untuk minum air sebelum tidur.
Lima menit terakhir sebelum mata benar-benar terpejam selalu mereka isi dengan hal-hal kecil yang hangat. Kadang tawa pelan, kadang hening yang nyaman. Tak perlu kata “aku sayang kamu” di setiap akhir kalimat, karena rasanya sudah cukup jelas tanpa diucapkan.
Sebelum menutup mata, salah satu dari mereka biasanya mengirim foto lampu kamar yang sudah dimatikan.
Pesannya cuma satu, “selamat tidur, aku duluan ya.”
Yang satu lagi membalas, “oke. Aku nyusul.”
Dan seperti biasa, tak ada kata pamit panjang. Hanya diam, lalu tidur dengan senyum kecil.
Mungkin begitulah cinta yang tenang, bukan yang penuh janji besar, tapi yang terasa dari lima menit terakhir sebelum tidur. Lima menit yang singkat, tapi cukup untuk membuat malam terasa utuh.
Dongeng Sebelum Tidur untuk Pacar: Janji di Kedai Kopi yang Tutup Terlambat
Kedai kopi itu kecil, terletak di ujung jalan yang jarang dilewati orang. Lampunya kuning redup, musiknya pelan, dan aroma kopinya selalu terasa sampai ke luar pintu. Biasanya kedai itu tutup jam sepuluh malam, tapi malam itu, hujan turun lebih lama dari biasanya.
Mereka berdua duduk di pojok ruangan, menatap jendela yang dipenuhi titik-titik air. Tak ada pembicaraan penting. Kadang mereka cuma saling bertukar pandang, lalu tertawa kecil tanpa alasan.
“Lucu ya,” kata dia sambil menatap cangkirnya yang mulai dingin.
“Apa yang lucu?”
“Kita nunggu hujan reda, padahal nggak tahu kapan berhentinya.”
Yang satu tersenyum. “Mungkin bukan hujannya yang penting, tapi siapa yang nunggu bareng.”
Barista sudah mulai membereskan meja, tapi tidak menegur mereka. Entah kenapa, malam itu kedai kopi terasa ingin ikut diam bersama mereka berdua. Waktu seakan berjalan lebih pelan, memberi ruang untuk kata-kata yang tak perlu diucapkan.
Saat akhirnya hujan reda, mereka masih duduk sebentar, menikmati sisa aroma kopi dan suara tetesan air dari atap. Sebelum beranjak, salah satunya berkata pelan, “Kapan-kapan, kita tunggu hujan lagi di sini, ya?”
Yang lain menjawab, “boleh. Tapi jangan tunggu hujannya berhenti, tunggu sampai kopinya habis.”
Malam itu mereka berpisah di depan pintu, dengan senyum kecil yang sama. Tak ada janji besar, hanya perasaan sederhana bahwa mereka akan kembali ke tempat itu, bukan karena kopinya enak, tapi karena di sanalah mereka belajar diam yang terasa hangat.
Dongeng Sebelum Tidur untuk Pacar: Jam yang Angkanya Terlihat Aneh
“Aneh nggak sih jamnya?”
Aku bicara pelan, entah ke siapa. Kamar kosong, tapi suara sendiri masih terdengar wajar. Jam dinding menunjukkan lewat tengah malam. Angkanya terlihat tidak rapi. Terlalu lama ditatap, mungkin.
“Harusnya kamu jalan terus, kan,” kataku lagi. Jam tetap berdetak. Tidak menjawab. Wajar.
Aku menarik selimut sampai dada. Kipas berputar pelan, lalu bunyinya berubah sedikit. Aku menghela napas.
“Capek ya hari ini,” gumamku.
Aku memejamkan mata sebentar, lalu membukanya lagi. Jamnya masih aneh. Angka empat terlihat terlalu dekat dengan lima. Aku terkekeh kecil.
“Kayak pikiran gue,” kataku. “Numpuk.”
Dari luar, terdengar suara motor lewat. Setelah itu sunyi. Aku menoleh ke sisi kosong tempat tidur.
“Kalau kamu di sini, pasti bilang, ‘Udah, tidur aja.’”
Aku bisa membayangkan suaranya. Datar, sedikit malas, tapi bikin tenang.
“Iya, iya,” jawabku sendiri. “Sebentar.”
Aku kembali menatap jam. “Kenapa sih malam selalu begini?” tanyaku, setengah bercanda. “Siang cepet banget, malam malah panjang.”
Jam berdetak. Tidak peduli. Aku menyerah. Aku membalik badan, membelakangi jam.
“Ya udah,” kataku. “Menang kamu.”
Beberapa detik berlalu. Atau menit. Aku tidak yakin. Napasku mulai teratur. Pikiran pelan-pelan berhenti berisik.
Sebelum benar-benar tertidur, aku berbisik lagi, hampir tidak terdengar.
“Besok aja ya mikirnya.”
Jam tetap berdetak di belakangku. Angkanya mungkin sudah kembali normal. Aku tidak mengecek. Tidak perlu.
Malam ini, tidur cukup.
Dongeng Sebelum Tidur untuk Pacar: Kursi Kosong di Samping Tempat Tidur
Kursi itu masih di sana. Di samping tempat tidur, sedikit miring karena salah satu kakinya lebih pendek. Aku jarang memakainya, tapi tidak pernah memindahkannya.
“Masih kosong,” kataku pelan.
Tentu saja tidak ada jawaban. Kursi tidak pernah protes. Tapi entah kenapa, setiap malam aku tetap melirik ke sana sebelum tidur, seperti sedang memastikan sesuatu.
Aku duduk di tepi kasur, membuka ponsel, lalu menutupnya lagi.
“Harusnya kamu duduk di situ,” gumamku. “Cuma duduk. Nggak ngapa-ngapain.”
Aku bisa membayangkannya. Kamu duduk sambil memainkan ujung baju, atau sekadar diam.
“Kamu pasti bilang, ‘Kursinya nggak enak,’ kan?” kataku sambil tersenyum kecil.
Kursi itu tetap kosong. Tapi rasanya tidak benar-benar sepi.
Aku rebahan, memunggungi kursi. Beberapa detik kemudian aku berbalik lagi.
“Ya gimana, kebiasaan,” kataku. “Kalau kursinya dipindah, kamarnya terasa beda.”
Lampu kamar redup. Jam berdetak pelan. Dari luar, suara anjing menggonggong sekali, lalu hilang. Aku menarik selimut sampai bahu.
“Aku capek hari ini,” kataku, seolah kamu duduk di sana. “Bukan capek yang berat. Capek yang bikin pengin diem.”
Aku menutup mata, lalu membukanya lagi.
“Besok juga bakal gitu lagi sih,” tambahku. “Tapi nggak apa-apa.”
Aku tidak menunggu jawaban. Tidak perlu. Kursi itu cukup dengan tetap kosong dan tidak ke mana-mana.
“Tidur dulu ya,” bisikku.
Aku memejamkan mata. Napasku mulai pelan. Kursi di samping tempat tidur tetap kosong, tapi malam ini, itu sudah cukup.
Baca juga: Asal-usul dan Latar Belakang Dongeng Sangkuriang dari Tanah Sunda
Dongeng Sebelum Tidur untuk Pacar: Playlist yang Hanya Diputar Saat Sendiri

Ada seseorang yang diam-diam menyimpan playlist di ponselnya. Judulnya sederhana, “buat yang jauh tapi masih di sini.” Tidak ada orang lain yang tahu, bahkan kamu pun tidak.
Setiap lagu di dalamnya punya cerita kecil. Lagu pertama diputar waktu kalian pertama kali pulang bareng naik motor di malam yang berangin.
Lagu kedua, lagu yang kamu kirim waktu bilang, “ini enak banget, coba denger.” Lagu terakhir? Lagu yang selalu ia putar kalau rindu, tapi nggak tahu harus ngomong apa.
Lucunya, playlist itu nggak pernah diputar kalau sedang ramai. Hanya saat sendirian, biasanya malam-malam, di kamar yang lampunya cuma nyala separuh. Ia memutar lagu itu pelan-pelan, bukan untuk bersedih, tapi untuk mengingat rasa tenang yang pernah ada.
Kadang, sambil mendengarkan, ia tersenyum kecil. Ada bagian lagu yang mengingatkannya pada caramu tertawa, atau bagaimana kamu selalu protes tiap lagunya terlalu mellow.
Tapi justru di situ letak hangatnya, bahwa meski waktu terus berjalan, kenangan nggak perlu dilupakan, cukup disimpan dalam bentuk musik.
Setiap nada adalah percakapan yang tak sempat disampaikan. Setiap bait lirik seperti ucapan “aku masih ingat.”
Dan meski kalian kini jarang bicara sebanyak dulu, playlist itu tetap ada, tak pernah dihapus, tak pernah diperbarui. Karena bagi sebagian orang, cara mencintai paling tenang adalah dengan mendengarkan lagu yang sama, sendirian, sambil tersenyum kecil sebelum tidur.
Dongeng Sebelum Tidur untuk Pacar: Pesan Terakhir Sebelum Tidur
Layar ponsel menyala lagi. Aku tahu isinya, tapi tetap kubuka. Pesan terakhir. Masih sama. Tidak ada tambahan apa-apa sejak tadi.
“Kayaknya ini yang terakhir ya,” kataku pelan.
Aku tidak menunggu balasan. Ponsel kubaringkan di dada, layar menghadap ke bawah. Lampu kamar sudah redup, tinggal satu sudut yang masih terang.
Aku menarik napas. “Harusnya aku tidur,” gumamku. “Tapi sebentar lagi.”
Ponsel kuambil lagi. Kubaca ulang pesan itu. Pendek. Tidak spesial. Tapi cukup.
“Kalau dipikir-pikir, kamu selalu gitu,” kataku sambil setengah tersenyum. “Nggak panjang, tapi pas.”
Aku membayangkan kamu di tempatmu. Mungkin sudah setengah tidur. Mungkin ponselmu sudah diletakkan di meja.
“Kalau kamu kebangun, nggak usah balas,” kataku. “Serius.”
Jam berdetak pelan. Kipas berputar dengan suara yang mulai kukenal. Aku mengetik satu kalimat, lalu menghapusnya. Mengetik lagi, lalu berhenti.
“Ah, udah,” kataku. “Ini cukup.”
Ponsel kuletakkan di samping bantal, layar menghadap ke atas. Aku tidak menguncinya. Tidak juga mengecek lagi.
Aku menoleh ke langit-langit. “Hari ini panjang,” bisikku. “Tapi nggak buruk.”
Beberapa detik berlalu. Atau menit. Aku tidak menghitung. Ponsel tetap diam. Tidak ada getaran.
“Besok aja ngobrolnya,” kataku pelan.
Aku memejamkan mata. Layar ponsel akhirnya mati sendiri. Pesan terakhir sebelum tidur tetap menjadi yang terakhir malam ini. Dan anehnya, itu sudah cukup membuatku tenang.
Dengan dongeng sebelum tidur untuk pacar, kamu bisa menghadirkan momen manis yang ringan dan menyenangkan di penghujung hari, sekaligus meninggalkan kesan hangat yang sulit dilupakan. Bahkan, dengan membiasakan membaca dongeng sebelum tidur untuk pacar, kamu akan menemukan cara baru untuk menjaga keintiman dan kebahagiaan hubunganmu.
Jika kamu ingin menghadirkan konten serupa dengan kualitas terbaik untuk blog atau website, Optimaise sebagai digital agency Malang siap membantu dengan jasa SEO artikel profesional. Jangan lupa juga untuk menyimak artikel kami lainnya tentang dongeng sebelum tidur romantis yang tak kalah menarik!
