Memasuki bulan Rajab, berbagai pertanyaan seputar ibadah kembali ramai dibicarakan masyarakat. Mulai dari percakapan di grup WhatsApp keluarga, unggahan media sosial, hingga pencarian di Google, topik puasa Rajab selalu menjadi perhatian umat Muslim setiap tahunnya.
Tingginya minat ini menunjukkan adanya keinginan kuat untuk meningkatkan ibadah. Namun di sisi lain, masih banyak informasi yang beredar tanpa penjelasan utuh, sehingga memunculkan kebingungan di tengah masyarakat.
Berikut ini rangkuman pertanyaan yang paling sering muncul di masyarakat terkait puasa sunnah di bulan Rajab, dirangkum secara ringkas, informatif, dan mudah dipahami.
Table of Contents
1. Apakah Puasa Rajab Wajib Dilaksanakan?
Salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan adalah soal hukum puasa di bulan Rajab. Tidak sedikit masyarakat yang mengira ibadah ini bersifat wajib karena sering dianjurkan dalam ceramah atau media sosial. Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab menjelaskan bahwa puasa di bulan Rajab termasuk puasa sunnah, sebagaimana puasa di bulan-bulan haram lainnya. Namun, ia menegaskan bahwa tidak ada hadits sahih yang secara khusus menetapkan keutamaan puasa Rajab dengan jumlah hari tertentu.
Artinya, dikerjakan berpahala dan ditinggalkan tidak berdosa.
2. Berapa Hari Puasa Rajab yang Dianjurkan?
Pertanyaan berikutnya berkaitan dengan jumlah hari pelaksanaan. Sebagian masyarakat masih meyakini bahwa puasa bulan Rajab harus dilakukan selama satu bulan penuh.
Faktanya, tidak ada ketentuan khusus mengenai jumlah hari. Umat Islam diperbolehkan berpuasa satu hari, beberapa hari, atau sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Sebagian ulama menganjurkan puasa Senin-Kamis atau Ayyamul Bidh yang bertepatan dengan bulan Rajab, tanpa mengkhususkan hari tertentu.
3. Apakah Ada Tanggal Tertentu yang Diutamakan?
Tak sedikit pula yang bertanya apakah ada tanggal tertentu yang dianggap paling utama untuk menjalankan puasa sunnah di bulan Rajab.
Para ulama menjelaskan bahwa tidak ada tanggal khusus di bulan Rajab yang memiliki keutamaan puasa secara spesifik. Semua hari di bulan tersebut memiliki nilai yang sama.
Jika seseorang memilih tanggal tertentu, itu lebih kepada kebiasaan pribadi atau mengikuti puasa sunnah yang sudah dianjurkan sebelumnya.
4. Bolehkah Puasa Bulan Rajab Dilakukan Setiap Hari?
Antusiasme sebagian umat Muslim mendorong munculnya pertanyaan ini. Jawabannya, boleh, selama tidak diyakini sebagai kewajiban atau disertai keyakinan keliru.
Namun, sebagian ulama menganjurkan agar tidak melakukan puasa bulan Rajab secara penuh selama sebulan jika dikhawatirkan menimbulkan pemahaman yang salah di tengah masyarakat.
Prinsip utamanya adalah menjaga niat dan pemahaman yang benar.
5. Bagaimana Niat Puasa Rajab yang Benar?

Soal niat juga menjadi salah satu pertanyaan yang paling sering muncul di masyarakat. Banyak yang bertanya apakah puasa bulan Rajab memiliki lafaz niat khusus atau cukup diniatkan seperti puasa sunnah pada umumnya.
Sebagian ulama menjelaskan bahwa tidak ada dalil sahih yang secara khusus menetapkan lafaz niat tertentu. Namun dalam praktiknya, lafaz niat puasa Rajab tetap dikenal dan lazim digunakan di tengah masyarakat sebagai bentuk penegasan niat puasa sunnah.
Adapun lafaz niat puasa Rajab yang umum dibaca adalah:
Arab:
نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ رَجَبَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin:
Nawaitu shauma syahri Rajaba sunnatan lillāhi ta‘ālā.
Artinya:
“Aku berniat puasa sunnah bulan Rajab karena Allah Ta‘ala.”
Niat tersebut dibaca di dalam hati atau dilafalkan pada malam hari sebelum berpuasa. Yang terpenting, niat dilakukan dengan kesadaran dan keikhlasan sebagai ibadah sunnah.
Baca juga: Niat Puasa Rajab Bulan Rajab: Bacaan Lengkap, Waktu Pelaksanaan, dan Keutamaannya – Optimaise
6. Apakah Puasa Rajab Bisa Digabung dengan Puasa Sunnah Lain?
Pertanyaan ini sering diajukan oleh mereka yang ingin memaksimalkan ibadah. Jawabannya, puasa di bulan Rajab boleh digabung dengan puasa sunnah lain, seperti Senin-Kamis atau Ayyamul Bidh.
Mayoritas ulama membolehkan penggabungan niat puasa sunnah selama tidak disertai keyakinan yang keliru. Hal ini memudahkan umat Islam yang ingin tetap konsisten beribadah.
7. Apakah Puasa Rajab Memiliki Keutamaan Khusus?
Beredarnya klaim tentang pahala berlipat ganda membuat banyak orang bertanya soal keutamaan ibadah ini. Perlu diluruskan bahwa keutamaan puasa bulan Rajab bersifat umum, sebagai bagian dari puasa sunnah di bulan haram.
Ulama besar Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al-Fatawa menyebutkan bahwa hadits-hadits yang secara khusus menjelaskan keutamaan puasa Rajab dengan pahala tertentu mayoritas berstatus lemah, bahkan sebagian dinilai palsu. Karena itu, ibadah puasa di bulan Rajab dianjurkan secara umum sebagai puasa sunnah, bukan karena keutamaan khusus yang tidak memiliki dasar kuat.
8. Apakah Puasa Bulan Rajab Bisa Menjadi Persiapan Ramadan?

Menjelang Ramadan, sebagian umat Muslim menjadikan puasa Rajab sebagai latihan fisik dan mental. Hal ini dinilai membantu tubuh beradaptasi dengan ritme puasa.
Meski bukan tujuan utama, puasa sunnah ini dapat menjadi sarana membiasakan diri serta memperbaiki kualitas ibadah secara bertahap sebelum Ramadan tiba.
9. Siapa Saja yang Dianjurkan Menjalankan Puasa Bulan Rajab?
Pertanyaan terakhir yang sering muncul berkaitan dengan siapa saja yang dianjurkan menjalankan ibadah ini. Secara umum, puasa Rajab dianjurkan bagi Muslim yang mampu secara fisik dan tidak memiliki halangan syar’i.
Bagi orang sakit, musafir, ibu hamil, atau menyusui, puasa sunnah tidak diwajibkan dan dapat ditinggalkan tanpa dosa.
10. Apa Maksud Puasa Rajab 3 Hari?
Istilah puasa Rajab tiga hari sering menimbulkan salah paham. Banyak yang mengira hal tersebut merupakan anjuran khusus di bulan Rajab.
Pada dasarnya, puasa tiga hari yang dimaksud merujuk pada puasa Ayyamul Bidh, yaitu puasa pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriah. Jika tanggal tersebut jatuh di bulan Rajab, maka masyarakat menyebutnya sebagai puasa Rajab tiga hari.
Artinya, puasa tersebut bukan anjuran khusus Rajab, melainkan puasa sunnah bulanan yang kebetulan dilakukan di bulan Rajab.
11. Mengapa Banyak Versi Puasa di Bulan Rajab Beredar di Masyarakat?
Banyaknya versi terkait puasa Rajab tidak lepas dari masifnya informasi keagamaan di ruang digital. Potongan ceramah, poster dakwah, hingga video pendek di media sosial sering kali menyebut jumlah hari tertentu tanpa penjelasan konteks dalil.
Akibatnya, sebagian masyarakat memahami informasi tersebut secara parsial dan menganggapnya sebagai ketentuan baku. Padahal dalam kajian fikih, ibadah sunnah tidak ditetapkan dengan hitungan hari tertentu tanpa dasar yang jelas.
Para ulama mengingatkan agar umat Islam lebih selektif dalam menerima informasi keagamaan dan merujuk pada sumber yang tepercaya.
Ramainya pertanyaan seputar puasa Rajab menunjukkan tingginya semangat masyarakat dalam meningkatkan ibadah sunnah. Namun, semangat tersebut perlu dibarengi dengan pemahaman yang benar agar tidak terjebak pada informasi yang keliru.
Puasa Rajab adalah ibadah sunnah yang fleksibel, tidak memiliki ketentuan jumlah hari tertentu, dan dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing individu. Yang terpenting adalah niat yang lurus dan pemahaman yang tepat.
Jika kamu ingin menemukan lebih banyak artikel informatif seperti di atas, kamu bisa mengunjungi Digital Agency Malang. Di sana juga tersedia layanan Penulisan artikel untuk mendukung kebutuhan website kamu.
Jika kamu sedang membutuhkan referensi, ada contoh surat lamaran pekerjaan tulis tangan yang bisa dijadikan panduan sebelum mengajukan lamaran kerja.
Pertanyaan mana yang paling sering kamu temui di lingkunganmu?
