Islam

Mendalami Surah Al Baqarah 156: Kalimat Istirja’, Penguat Hati Saat Ujian Datang

Dwi

terjemahan Al Baqarah 156

Dalam perjalanan hidup, setiap manusia pasti pernah mengalami yang namanya kehilangan, kegagalan, maupun ujian yang terasa begitu berat. Ada masa ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan, bahkan ada saat seseorang harus merelakan sesuatu yang sangat dicintai. Di tengah kondisi seperti itu, Islam menghadirkan satu kalimat sederhana namun penuh kekuatan spiritual, yaitu Al Baqarah 156.

Ayat ini sering kita dengar ketika ada musibah atau kabar duka. Namun sebenarnya, makna Al Baqarah 156 jauh lebih luas daripada sekadar ucapan belasungkawa. Ia adalah bentuk pengakuan seorang hamba tentang asal-usul kehidupan sekaligus arah akhir perjalanan manusia.

Artikel kali ini akan mengajak Anda memahami lebih dalam kandungan ayat tersebut, mulai dari makna, tafsir, hingga cara mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sekilas Tentang Surah Al Baqarah 156

Al Baqarah 156
Mendalami Surah Al Baqarah 156: Kalimat Istirja’, Penguat Hati Saat Ujian Datang 1

Al Baqarah 156 merupakan bagian dari Surah Al Baqarah yang termasuk golongan surah Madaniyah. Ayat ini berada dalam rangkaian pembahasan tentang ujian kehidupan yang Allah berikan kepada manusia.

Sebelumnya, pada ayat 155, Allah SWT menjelaskan bahwa manusia akan diuji dengan rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Lalu pada ayat 156, Allah menggambarkan sikap ideal orang beriman ketika menghadapi ujian tersebut.

Ayat ini dikenal sebagai kalimat istirja’, yaitu ucapan yang dianjurkan saat tertimpa musibah:

“Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.”

Maknanya bukan sekadar ungkapan kesedihan, melainkan deklarasi iman bahwa seluruh kehidupan berada dalam kekuasaan Allah SWT.

Keutamaan Surah Al Baqarah 156

keutamaan Al Baqarah 156
Mendalami Surah Al Baqarah 156: Kalimat Istirja’, Penguat Hati Saat Ujian Datang 2

Ayat ini memiliki kedudukan istimewa dalam Islam karena berkaitan langsung dengan kesabaran dan keimanan seseorang.

Beberapa keutamaannya antara lain:

Mendapatkan Rahmat Allah

Dalam ayat selanjutnya (Al Baqarah 157), Allah menjanjikan rahmat dan petunjuk bagi mereka yang mengucapkan kalimat ini dengan penuh kesadaran iman.

Menguatkan Mental Saat Musibah

Ucapan ini membantu seseorang menerima kenyataan tanpa kehilangan harapan.

Menjadi Tanda Keimanan

Orang yang mampu mengingat Allah di saat sulit menunjukkan kedewasaan spiritual.

Menghapus Kesedihan Berlebihan

Dengan memahami bahwa semua milik Allah, seseorang belajar melepaskan keterikatan dunia secara sehat.

Baca Juga: Surah Al Buruj: Kisah Keteguhan Iman di Tengah Ujian yang Menggetarkan Hati

Bacaan Surat Al Baqarah 156 Arab, Latin, dan Terjemahan

Tulisan Arab

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Latin

Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.

Terjemahan Bahasa Indonesia

“Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali.”

Kalimat ini singkat, namun mencakup seluruh filosofi kehidupan manusia: asal, tujuan, dan kepasrahan total kepada Sang Pencipta.

Tafsir Surat Al Baqarah 156

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan karakter utama orang sabar.

Menurut tafsir Kementerian Agama RI, ayat ini menunjukkan bahwa orang beriman menyadari seluruh dirinya—termasuk harta, keluarga, dan kehidupan—adalah milik Allah. Karena itu, ketika kehilangan terjadi, mereka tidak larut dalam penolakan terhadap takdir.

Sementara dalam Tafsir Al-Mishbah, dijelaskan bahwa ucapan ini bukan bentuk pasrah tanpa usaha, melainkan kesadaran mendalam bahwa manusia hanyalah pengelola, bukan pemilik mutlak kehidupan.

Makna ayat ini dapat dipahami dalam dua bagian:

Innā lillāhi

Artinya kita milik Allah. Segala yang kita punya hanyalah titipan.

Wa innā ilaihi rāji‘ūn

Artinya kita akan kembali kepada Allah. Semua perjalanan hidup bermuara pada akhirat.

Dengan memahami dua konsep ini, seseorang mampu menjaga keseimbangan antara usaha dunia dan ketenangan hati.

Kisah Turunnya Surat Al Baqarah 156 (Asbabun Nuzul)

Ayat ini turun berkaitan dengan kondisi kaum Muslimin awal di Madinah yang menghadapi berbagai ujian berat.

Pada masa itu, umat Islam mengalami:

  • Ancaman peperangan
  • Kehilangan anggota keluarga
  • Kesulitan ekonomi
  • Tekanan sosial dari kaum musyrik dan Yahudi Madinah

Sebagian sahabat merasa sedih dan terpukul menghadapi cobaan tersebut. Maka Allah menurunkan ayat tentang kesabaran, termasuk Al-Baqarah 156, sebagai panduan spiritual menghadapi musibah.

Ayat ini menegaskan bahwa ujian bukan tanda kebencian Allah, melainkan bagian dari proses peningkatan derajat keimanan.

Cara Mengamalkan Nilai Surat Al-Baqarah 156 dalam Kehidupan Sehari-Hari

Memahami ayat ini seharusnya tidak berhenti pada bacaan saja. Ada banyak nilai praktis yang bisa diterapkan.

1. Mengucapkannya Saat Musibah Apa Pun

Tidak hanya saat kematian, tetapi juga ketika:

  • kehilangan pekerjaan
  • gagal usaha
  • sakit
  • kehilangan kesempatan

2. Belajar Ikhlas terhadap Takdir

Ayat ini melatih hati menerima bahwa tidak semua hal berada dalam kendali manusia.

3. Tidak Berlebihan dalam Kesedihan

Islam tidak melarang bersedih, tetapi melarang putus asa.

4. Menumbuhkan Rasa Syukur

Ketika sadar semua hanyalah titipan, seseorang lebih mudah bersyukur selama masih memilikinya.

5. Menjadikan Ujian sebagai Jalan Mendekat kepada Allah

Musibah sering menjadi momen seseorang kembali memperbaiki hubungan spiritualnya.

Baca Juga: Surah Al Mu min: Kisah Keimanan Tersembunyi dari Keluarga Fir’aun

Tanya Jawab Seputar Surat Al Baqarah 156

Apakah Al Baqarah 156 hanya dibaca saat ada kematian?

Tidak. Ayat ini dianjurkan dibaca setiap kali menghadapi musibah atau kehilangan dalam bentuk apa pun.

Apa arti sebenarnya kalimat istirja’?

Istirja’ berarti mengembalikan segala urusan kepada Allah sebagai pemilik kehidupan.

Apakah membaca ayat ini bisa menghapus kesedihan?

Kesedihan mungkin tetap ada, tetapi hati menjadi lebih tenang karena memahami hikmah di balik ujian.

Bolehkah mengucapkannya saat kehilangan barang kecil?

Boleh. Bahkan dianjurkan agar hati terbiasa mengingat Allah dalam segala kondisi.

Mengapa ayat ini sangat populer di kalangan Muslim?

Karena ia menjadi pengingat paling sederhana namun mendalam tentang hakikat hidup manusia.

Al Baqarah 156 bukan sekadar kalimat yang diucapkan ketika mendengar kabar duka. Ia adalah prinsip hidup seorang Muslim. Ayat ini mengajarkan bahwa manusia tidak pernah benar-benar memiliki apa pun di dunia ini.

Sama seperti memhamai Yasin Artinya, ketika seseorang memahami makna “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn”, ia akan menjalani hidup dengan lebih tenang—tidak terlalu sombong saat bahagia dan tidak hancur saat kehilangan.

Pada akhirnya, semua perjalanan manusia memang kembali kepada Allah. Dan kesadaran itulah yang menjadikan hati tetap kuat, bahkan di tengah ujian paling berat sekalipun.

Terakhir, bagi Anda yang sedan mengembangkan bisnis ke ranah digital, maka bekerja sama dengan Optimaise, akan menjadi pilihan yang tepat. Dengan layanan Jasa SEO Bali, Optimaise, siap membantu website Anda masuk peringkat satu dari mesin pencari Google!

Baca Juga

Optimaise